From Wagyu To Entrepreneur - The Power of Social Media for Small Business

By: Robert The Great
~Pathway To Success Series~


Wagyu !!!

Agak janggal memang pertama mendengar kata itu.

Bukan, bukan,.... bukan kosakata yang biasa untuk menyumpahi orang itu...

Wagyu disini secara umumnya adalah sebuah daging yang biasa diolah menjadi steak yang berasal dari daging sapi.

Daging sapi wagyu yang dibahas kita sekarang juga bukan berasal dari sapi-sapi seperti biasanya, seperti sapi lokal yang memang penampakannya agak gembel lagi cungkring kalau kita pernah liat di siaran pedesaan TVRI jaman dulu ataupun sapi import yang biasa disediakan di restoran-restoran steak yang biasanya diimpor dari Australia, Selandia Baru ataupun Amerika.

Wagyu di sini kalau secara harafiah dan literalnya berarti sapi Jepang. Tapi bukan berarti mentang-mentang dari Jepang, sapi-sapi ini bisa kendo, aikido ataupun jiu jitsu. Nah.. jadi kamu juga tak perlu pakai resah dan khawatir segala, bakal ke-gyakudori ataupun ke-dollyo chagi pada saat mengkonsumsi daging sapi wagyu ini.

img-1439278138.jpg

Konon katanya daging sapi wagyu ini merupakan daging sapi dengan kualitas nomor satu di dunia, jika dibandingkan dengan daging-daging sapi jenis yang lainnya. Mulai dari cita rasa khas daging wagyu ini sendiri sampai dengan kelembutan dagingnya yang sudah melegenda di dunia kuliner pecinta daging sapi.

Di Jepang sana, sapi wagyu ini katanya tidak hanya diberi rumput, tetapi juga diberi barley, jagung, dan berbagai macam vitamin, bahkan sapi-sapi ini diberi kalsium juga. Dan untuk membuatnya bersih dari binatang-binatang yang hidup di kulit sapi, sapi wagyu ini biasanya dimandikan dengan sake. Belum lagi para peternak di Jepang, suka memberikan pijatan khusus untuk sapi wagyu agar sapinya tidak gampang stress dan selalu bahagia.

Nah bandingkan dengan sapi lokal kita yang hanya makan menu diet sehat vegetarian rumput asli Indonesia saja untuk menu sehari-hari plus mandi happy olahan lumpur di sawah-sawah. Boro-boro ditambah pake pijat-pijat massage segala kaya sapi wagyu, di sini cuma disisirin ama bossnya aja udah syukur-syukur nangis darah sapinya...

Oleh karena itulah harga daging sapi wagyu ini jadi sangat mahal. Apalagi kalau sudah diimpor masuk ke Indonesia. Sebab itulah restoran-restoran steak yang menyediakan menu daging sapi wagyu di Indonesia, pasti mematok harga yang relatif cukup mahal untuk konsumen pecinta steak daging sapi wagyu di Indonesia.

Nah fenomena mahalnya harga steak wagyu ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Afit D. Purwanto yang biasa dikenal dengan nama Chef Afit, pemilik Holycow! Steak. Chef Afit dengan segera membuat ide untuk membuat wagyu dengan harga murah tetapi tetap bisa bikin orang sumringah.

Harga yang dipatok untuk satu menu steak daging wagyu yang disajikannya bisa hampir sekitar sepertiga dari harga yang ditawarkan restoran-restoran steak wagyu. Saking murahnya sampai-sampai banyak pelanggan yang pernah menanyakan, apakah daging wagyu yang dijual di sini adalah daging sisa dari hotel? Kalau saya sendiri sih pribadi lebih curiga bahwa daging wagyu ini adalah dari sapi wagyu yang harakiri, jadi mau tak mau karena proses kematian yang tidak wajar, maka dagingnya bisa dijual dengan harga yang jauh dari harga standar. Holy-Moly!!! Tentu saja tidak !!! Daging wagyu yang di sini aseli datang dari sapi Jepang dan pemotongannya pun dilakukan secara normal. Kenapa bisa murah?? Mungkin saja sapinya yang biasa masuk ke Indonesia pakai Garuda, sekarang doski pakai Air Asia... Aha !!!

img-1439278374.jpg

Dengan ide menjual wagyu dengan harga paling murah se-Indonesia, Chef Afit bersama partnernya memulai bisnisnya dengan model warungan, karena keterbatasan modal. Tentunya wagyu murah meriah ini tidak serta merta laris manis di pasaran. Selain karena belum banyaknya orang yang mengerti "nendangnya" daging wagyu ini, serta banyak juga orang-orang sini yang belum terbiasa dengan konsep wagyu warungan.

Secara di dalam bahasa jawa, arti wagyu ini adalah "tidak pantas". Jadi memang agak tidak pantas kalau jualan wagyu di warung. Agak "wagu" memang.

Serta oleh karena keterbatasan modal tadi, tentunya Chef Afit tidak memasang iklan di mana-mana. Boro-boro warung steak wagyu-nya nebeng iklan di televisi, mau pasang promosi di koran aja mestinya sudah over budget.

Tetapi keterbatasan tersebut malah dikonversikannya dengan sebuah ide pemasaran gratis melalui media sosial.

img-1439277959.jpg

Secara cara gratis yang tersedia lainnya adalah dengan cara nempel poster-poster di tiang-tiang listrik yang biasanya dilakukan oleh pengusaha-pengusaha sedot WC, maka pilihan gratis tapi tetap etis ya melalui media sosial yang satu ini.

Sebagai pioneer dari wagyu steak warungan ini, Chef Afit menggunakan twitter sebagai garda terdepan dalam mempromosikan dagangannya. Mulai dari mengedukasi masyarakat Indonesia tentang keunggulan daging wagyu ini, kemudian mengenalkan wagyu dari a sampai z, sampai dengan mengkonversi para follower di twitternya menjadi pelanggan setia warung steak wagyunya.

Dan belum sampai bulan ke-4, warung steak wagyu Chef Afit sudah bisa BEP (break even point), selain karena konsepnya ternyata menarik minat anak-anak muda yang mengetahui warung wagyunya lewat twitter, juga ternyata rasa dan kualitas steak wagyu yang disajikan di warung steak itu sendiri juga sesuai dengan apa yang dipromosikan dan digembar-gemborkannya lewat media sosial.

Semakin lama, berdasarkan twit-twit yang beredar , dan tag-tag di facebook yang berjubelan, yang pada sibuk membahas tentang warung steak wagyu ini, belum lagi ditambah hadiah-hadiah menarik untuk para followernya, sehingga membuat warung steak wagyu Holycow ini rame total.

Pelanggannya tidak hanya kaum muda-mudi pecinta twitter saja, tetapi juga para pejabat-pejabat terkemuka negeri ini. Tentunya sangat dianjurkan buat para Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang pengen mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur untuk makan steak wagyu ini. Siapa tahu keinginan anda menjadi "wagyub" bisa terpenuhi.
Kemudian bisa ditebak dengan kondisi setelah rame total tadi, Chef Afit tentu akhirnya berhasil membuka cabang kedua, dan bahkan berhasil membuka cabang ketiga di luar negeri, yaitu di negara Singapura.

Tetapi apa daya ketika kesuksesan sudah ada diraih, tiba-tiba saja manajemen aka tim suksesnya bubar, sehingga warung steak Holycow ini akhirnya terpaksa harus dibagi-bagi ke beberapa pemiliknya. Sehingga nama warung steak wagyu resmi yang dipegang oleh Chef Afit ini sendiri pun berganti menjadi Holycow! Steakhouse by Chef Afit.

Meski demikian, para follower dan para fans di facebook fanpage-nya, tetap setia mengikuti warung steak yang dikelola oleh Chef Afit. Yang mana sekarang akhirnya Chef Afit berhasil membuka satu cabang lagi di kawasan yang memang sudah terkenal dengan dunia kulinernya -selain dunia underground-nya, yaitu di daerah Kelapa Gading. Lalu berlanjut sampai ke daerah-daerah prestisius lainnya, seperti di Alam Sutera, Bintaro, sampai di daerah Bali.

img-1439277772.jpg

Camp Holycow Bali - sumber

Nah berdasarkan pengalaman  Chef Afit di dalam mendirikan Holycow! Steakhouse by Chef Afit melalui promosi lewat twitter dan media sosial lainnya. Tentunya dari sini kita bisa terinspirasi di dalam memulai suatu bidang usaha. Yang mana ternyata di dalam memulai suatu usaha tidak melulu harus dimulai dengan modal yang besar, dan promosi yang gila-gilaan. Promosi gratis melalui media sosial pun, ternyata pelan tapi pasti bisa menjaring satu persatu pelanggan untuk mendukung usaha yang sedang kita kembangkan, yang tentunya hal tersebut harus diimbangi dengan kualitas dan pelayanan prima dari apa yang telah kita promosikan lewat media-media sosial tersebut.

Belajar dari pengalaman bisnis Chef Afit tersebut, yang memang dari awal, beliau mempunyai tujuan bahwa agar semua orang bisa menikmati kelezatan daging wagyu, tentu saja hal tersebut tak lepas dari profit maksimal yang harus diperoleh untuk menunjang kelangsungan bisnisnya. Dan bukan berarti dengan harga jual yang murah, tetapi usaha jadi ikut merugi, dan profit yang didapat pun mepet alias pas-pasan. Namanya juga bisnis, bukan yayasan, so jangan sampai kamu bisnis tapi ga pakai untung dan cuan.

So, dengan perhitungan dan kalkulasi yang tepat, maka harga jual di bawah harga pasar pun bisa diciptakan. Serta hal-hal tersebut juga diikuti dengan kemampuan bisnis yang handal, pengetahuan manajemen yang kuat, leadership yang mumpuni, semangat pantang menyerah, serta tak ketinggalan kreatifitas dalam berpromosi, sehingga membuat roda bisnis warung steak wagyu Chef Afit tetap berkembang, meski dirinya sempat mengalami "bubaran" dan restrukturisasi manajemen di dalam perjalanan karir bisnisnya. So, dari sini kita juga belajar bahwa move on pun bukan hanya milik ABG dan para alay semata, tetapi buat para pebisnis yang terpaksa harus pisahan juga dituntut harus bisa move on, dan memulai segala sesuatunya lagi dari awal secara mandiri.

Serta tentu saja yang terakhir jangan lupa selalu meminta berkat dari-Nya, agar bisnismu bisa perlahan merangkak naik ke permukaan, dan menjadi salah satu brand terkemuka di kelasnya

Komentar

    Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar