Mencari Co-founder Sampai ke Ujung Langit

By: Robert The Great
~Pathway To Success Series~


"Do you need a cofounder for your startup?"

Pertanyaan itu seringkali menghantui kita yang hendak memulai sebuah bisnis.
Apakah co-founder itu benar-benar diperlukan bagi yang hendak merintis usaha?
Ataukah mungkin cukup untuk memulai sebuah startup meski sendirian?

Mungkin pertanyaan "apakah perlu kita mencari seorang co-founder" itu bisa diibaratkan "apakah perlu kita menikah?"
Buat yang singel dan jomblo, tentu pertanyaan seputar pernikahan ini akan menjadi suatu momok yang menakutkan, apalagi buat yang baru saja diputusin ama pacar, yang tentu saja untuk forget the things that you have been through sekaligus move on ga semudah membalikkan telapak tangan dan tak segampang omongannya om Mario Teguh...

Adanya seorang cofounder di sini tentunya akan semakin memperlancar dalam menjalani bisnis kita. Selain itu cofounder juga sebagai tempat berbagi resep dan strategi bisnis, berbagi visi dan misi, berbagi keberhasilan serta berbagi masalah, dan juga sebagai penyemangat, pemberi motivasi sekaligus teman seperjuangan di dalam menjalankan usaha kita. Tapi tentu saja tak semua cofounder yang kita dapatkan bisa selalu klop dengan kita. Bahkan ada kalanya seorang cofounder malah bisa menghambat kemajuan usaha kita, entah karena dia takut berspekulasi ataupun cofounder itu punya motivasi dan tujuan yang berbeda dengan kita.

Sama seperti mencari seorang pasangan hidup, ketika lagi pacaran tentu semuanya terlihat indah, dan ketika sudah menikah, sisi-sisi gelapnya pun keluar satu per satu. Nah demikian juga dengan cofounder, ketika kita lagi masa penjajakan apakah orang ini layak atau tidak dijadikan partner, semuanya tercium seperti harum wangi bunga melati, dan ketika sudah resmi berpartner bisa-bisa yang tersisa hanya cuma aroma menyengat bunga Rafflesia.

Setidaknya menurut berbagai sumber ada beberapa kriteria yang bisa dilihat di dalam memilih seorang cofounder yang direkomendasikan, apakah seseorang itu layak atau tidak menjadi partnermu

Pertama, tentunya kamu harus punya "klik" dengan cofounder mu, dan kamu pun merasa enjoy ketika kerja bareng dengan orang tersebut. So ga cuman ketika kamu dan dia lagi pas ada di foto studio bikin pasfoto 3x4 buat daftar CV ataupun PT saja kamu denger bunyi klik dan cheese dari sang fotografernya, melainkan kamu harus bener-bener merasakan "klik" tersebut dari dalam hati.

img-1432887476.jpg
Lalu kedua apakah cofounder tersebut komit terhadap perusahaan ataukah komit terhadap ide startupmu saja. Karena ketika cofoundermu cuman tertarik dengan idemu. Dan sejalan dengan waktu, idemu ternyata tidak bisa dimonetisasi, tentu saja cofoundermu sudah bisa dipastikan bakal ambil langkah seribu. Tapi kalau cofoundermu itu memang komit terhadap perusahaan, so pasti meski kamu harus pivot dan mengambil langkah dari awal lagi membenahi startupmu, dia akan dengan penuh semangat terus berada di sampingmu.

Kemudian ketiga, dia harus punya keahlian yang tidak kamu miliki. Katakanlah kamu pinter marketing, so dia harus punya kemampuan di bidang teknikal ataupun di dalam manajemen. Ataupun dia tidak punya skill-skill seperti yang kamu harapkan, tapi dia punya jaringan yang kuat untuk orang-orang yang kamu perlukan di dalam membangun startup-mu, entah itu sumber daya manusia yang dapat diandalkan, klien-klien potensial, ataupun jejaring para investor. Dan ketika calon cofoundermu ternyata cuman punya skill mumpuni dalam hal intimidasi, yang mungkin menurutnya berguna untuk mengguncang dan menekan para investor, tentu soal ini kamu harus kaji ulang dan pikir baik-baik untuk mulai merekrutnya...

Selanjutnya yang keempat, kamu harus bertanya apakah kamu bisa membangun startup-mu ini tanpa kehadirannya? Kalau jawabanmu iya, mending kamu bangun startup-mu sendiri ataupun cari cofounder yang lain. Tapi kalau kamu merasa tanpa co-foundermu yang ini, startupmu ga akan bisa berkembang banyak ataupun bakal berjalan lambat, so kamu harus yakinkan diri untuk bekerjasama dengannya.

Dan terakhir, seperti mencari pasangan hidup, dimana kita akan menyelidiki latar belakang keluarganya, anaknya siapa, papanya punya bisnis apa, kuliah di mana, udah panya pacar belom, mamanya galak gak, ataupun mencari tahu statusnya apakah udah janda, duda ataupun sudah pisah ranjang tapi belom sampai proses cerai...
Tentu saja dengan mengetahui hal-hal tersebut akan membuat kita tidak menjadi orang kedua dan duri di dalam biduk rumah tangga orang lain.. Nah demikian juga saat kita mencari co-founder, kita harus mengetahui secara mendalam apakah dia orang yang cukup baik ataupun seorang "nice guy" dimana kamu bisa enjoy menjalani hari-harimu bersamanya membangun sebuah startup. Yang mana latar belakang, sekelumit kisah masa lalu, karakternya dan keahliannya sudah kamu ketahui secara menyeluruh. Toh ketika kamu bertemu dengan cofounder yang skillful, tapi karakternya jelek, seperti dia maunya menang sendiri, suka marah-marah ga jelas, ditambah hobi judi, minum miras oplosan, ataupun ternyata doski seorang psikopat, tentunya hidup dan karir bisnismu ke depan juga ga akan nyaman dan lancar kalau harus berpartner dan membangun sebuah bisnis dengannya...

img-1432887626.jpg
Dan ketika kamu salah memilih co-founder yang totally sucks, energimu tentu hanya akan habis untuk merenungi nasib dan menahan emosi yang tak kunjung berhenti... Oleh karena itu, kamu diharapkan tidak hanya termakan omongannya mentah-mentah saat perkenalan dan presentasi, tapi kamu harus melakukan penjajakan dan pengenalan secara lebih mendalam...

Nah keputusan terakhir untuk memulai bisnis dengan kehadiran seorang cofounder atau tidak itu tetap di tangan anda. Tapi sebelum memutuskan untuk benar-benar sendiri, kamu tentu pernah mendengar peribahasa "two head is better than one", yang berarti dua kepala lebih baik daripada satu... yang mana tentu saja peribahasa ini gak merujuk pada monster muppet dengan dua kepala yang bernama two-headed monster di serial Sesame Street ataupun mengacu pada sosok mistis nenek siam di film horor Indonesia, yang punya dua wajah, satu di depan sisanya lagi nempel dengan nyaman di belakang... hiiiy !!!

img-1432887024.jpg
Apalagi kalau kamu sering sakit-sakitan dan galau. Ketika kamu tidak bisa menghadiri suatu meeting perusahaan yang penting, ataupun proyek yang besar, dengan adanya cofounder, masih ada dia yang bisa menggantikanmu. Dan ketika kamu lagi down dan bertemu masalah, tentu ada cofoundermu yang akan terus memompa motivasi dan bersama-sama memecahkan masalah itu denganmu. So kemajuan perusahaan tidak hanya akan bergantung dan terbeban padamu saja, tetapi ada seorang yang lain yang ikut berjuang untuk kesuksesan startup yang kalian ciptakan. Di mana hal ini sesuai dengan peribahasa Afrika yang berbunyi, "Tsamina mina eh eh, Waka waka eh eh, Tsamina mina zangalewa"... EH? maaf salah copas... ini dia peribahasanya "If you want to go quickly, go alone. If you want to go far, go together."

img-1432887161.jpg
Setidaknya contoh konkret lain yang bisa kamu pertimbangkan adalah seperti kisah tokoh-tokoh yang sudah populer, punya kemampuan lebih yang tak dimiliki orang lain, udah gitu sakti-sakti lagi, malah sekarang ini sibuk berkoalisi dan bergabung menjadi satu di dalam organisasi,  yang bernama klub The Avengers... Dan ketika salah satu anggota tim superhero tertangkap atau ditawan oleh musuh, superhero-superhero yang lainnya pun dengan segera berjumpalitan datang untuk menyelamatkannya..

Selanjutnya setelah kamu mendapatkan cofounder yang tepat dan sesuai yang kamu butuhkan, tentu perjalananmu tak hanya berakhir di sini, melainkan ada beberapa hal penting yang harus kamu diskusikan dengannya..
Mulai dari pembagian tugas, jumlah modal yang dikeluarkan sampai, gaji yang akan diterima, dan yang paling kritikal adalah soal pembagian saham. Secara kalo sudah ngomongin yang namanya uang, yang tadinya baek-baek juga bisa jadi berantem. Jangankan cuman sebatas partner, orang yang masih saudara aja bisa ribut gara-gara rebutan uang. Seperti kata pepatah, money can make people go blind... tentunya kalo soal buta dan mebutakan bagi sebagian kaum pria bukan hanya bisa disebabkan masalah uang saja, tapi masih ada penyebab dari sektor lain, seperti misalnya tahta dan tak ketinggalan pula seorang wanita..

So untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan kedepannya, lebih baik masalah soal pembagian saham langsung diomongkan di depan dengan cofoundermu. Dan untuk menghitung pembagian saham antara seorang founder dan cofounder, biasanya masih banyak yang bingung dan bimbang, apakah sebaiknya 70:30, apakah 20:80, atau ataukah 50:50.. Lalu bagaimana jika cofoundernya lebih dari dua orang? Bagaimana pembagiannya yang dirasakan cukup adil? Nah tentunya tools Co-Founder Equity Calculator bisa membantumu memecahkan permasalahan pembagian saham tersebut. Di mana di sini kamu bisa meramu pembagian yang cukup proporsional, merata dan dapat diterima masing-masing pihak, karena kalkulator pembagian saham cofounder ini sudah diuji oleh ownernya melalui penelitian mendalam satu persatu dengan para founders di dunia.

Penggunaannya pun cukup mudah, kamu tinggal buka foundrs.com, dan kamu akan lihat beberapa pertanyaan muncul yang disertai dengan kotak-kotak untuk mengisi jawaban .. Nah asyiknya di sini kamu ga perlu ribet mengarsir dan harus sampe beli pensil 2b untuk mengisi kotak-kotak pilihan tersebut, melainkan di sini kamu cukup hanya tinggal mengklik di atas kotak-kotak pilihan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan...

img-1432887799.com
Setelah kamu mengisi semua yang diperlukan, pembagian saham yang disarankan oleh Co-Founder Equity Calculator akan segera muncul setelah kamu mengklik "compute equity"..
Mudah bukan? Kamu ga perlu repot-repot sewa konsultan bisnis, notaris, psikolog, penasihat spiritual, paranormal ataupun pake ramalan kartu tarot untuk mendapatkan pembagian saham yang proporsional dan sesuai dengan kinerja, tanggung jawab, dan tugas masing-masing para founder..

Hasil yang disarankan di sini tentu bukan merupakan hasil mutlak, masih banyak pertimbangan lainnya yang tak dimasukkan di dalam Co-Founder Equity Calculator tersebut. Kalau kamu masih belum puas, kamu bisa mengkonsultasikan hal ini kepada orang-orang yang kamu percayai, seperti dosenmu, pembimbingmu di gereja, atau bahkan mertuamu yang galak tapi sarat pengalaman bisnis...

Akhir kata ketika kamu butuh seorang cofounder, tapi belum menemukan seseorang yang sesuai dengan kriteria dan kebutuhanmu sampai sekarang. Jangan pernah berhenti untuk terus mencari. Dan pelan tapi pasti mulailah untuk mengerjakan startupmu seorang diri selangkah demi selangkah. Siapa tahu ke depannya nanti ketika startupmu sudah mulai dikenal orang, kamu dapat menemukan cofounder yang cocok dengan visi dan misi bisnismu... Atau bahkan mungkin dari pihak Investor ataupun Venture Capital sendiri yang datang untuk menemuimu..

Dan yakinlah selalu, saat kamu sendirian jatuh bangun dalam membangun startupmu, Tuhanlah yang akan dengan sukarela menjadi cofoundermu... Bukan hanya di saat masa-masa gemilang dan kesuksesanmu saja tapi juga di moment-moment kegagalan dan juga masa-masa tergelapmu... Sampai saatnya telah tiba untuk kamu bertemu dengan-Nya di tempat yang telah dijanjikan-Nya..

Komentar

    Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar